Monday, 3 February 2014

New Life : Bebas galau ala jomblo, menderita galau ala tante-tante

Tunggu-tunggu.... karena udah lama ngga ngeblog sebelum kita mulai, karena katanya kebersihan sebagian dari iman, ada baiknya gw bebersih dulu
*ambil kemoceng, lap debu, bersihin sarang laba-laba*

Hello.... dunia blogger sebangsa dan setanah air
Wellcome again to my *karatan* blog
Setelah entah berapa tahun ngga pernah nge post, akhirnya, niat ngeblog datang kembali. Yeaaah, moody blogger memang saya ini.

Dan saudara setanah air (seolah-olah yang baca blog gw banyak, padahal mah setahun yg view cuma 5 orang), kalau kalian membaca isi blog ini dari awal, isinya tak lain dan tak bukan adalah kegalauan masa jomblo belaka. Kegalauan kronis yang menggerogoti selama bertahun-tahun (baca:dari orok-25 tahun). Mungkin ada beberapa yang baca 2 postingan langsung muak, atau yang merasa senasib biasanya lebih betah baca karena merasa ada yang lebih merana hidupnya dari mereka.

Tapi postingan ini adalah titik balik saudara-saudara. Dengan postingan ini, saya mengabarkan sebuah kabar gembira, bahwasanya, jorok (jomblo dari orok) ini telah terlepas dari kutukan kejombloannya, melepaskan diri dari belenggu kegalauan yang selama ini melanda, dan menggerogoti.

Saya sudah menikah saudara-saudara...

Can u believe it? It's a miracle isn't it?

Setelah penantian panjang penuh kegalauan, akhirnya tuhan memberikan jawaban. Akhirnya tuhan mendengar doa-doa gw selama ini. Pada bulan Oktober 2013, akhirnya gw menikahi seorang pria yang tidak terlalu tampan, tidak terlalu kaya, tidak terlalu pintar, baik hatinya, dan yang terpenting cukup sabar menghadapi kecerewetan gw, sebut saja namanya PANDA. Kenapa panda? Karena buncit perutnya, gempal badannya, tapi cute dan menggemaskan.

Yah, akhirnya ada juga yang melihat gw sebagai calon istri potensial. Ini adalah bukti bagi para jomblowan dan jomblowati yang masuk kategori jorok atau jomblo kronis, bahwa, seperti yang Mariah Carey bilang: "there must be miracle, when you believe", pasti ada keajaiban bagi para jomblo. Yang harus dilakukan hanyalah bersabar, dan jangan terlalu perfeksionis, maunya yang begini-begitu, yang ini yang itu, ingat kata pepatah: "kenapa harus cari yang sempurna kalau yang sederhana bisa membuat bahagia" (waras mode: ON).

Gw menghentikan kejombloan gw tepat ketika para jomblo tertekan oleh bully dari berbagai pihak di media sosial. Sungguh terlalu, jomblo adalah pilihan saudara-saudara, bukan nasib. Jadilah jomblo yang beradab, jomblo high class, jangan rendahkan status jadi cabe-cabean cuma karena kalian ingin berhenti jadi jomblo.

Oke, back to the right track....
Walaupun gw sudah menikah, tenyata kegalauan belum berakhir.
Jarak memisahkan gw dan panda. Dia di jakarta raya, gw di lampung sang bumi ruwa jurai.
Alasan pekerjaan memisahkan kami, gw masih ada kontrak ngajar dan suami nggak mungkin pindah ke lampung.

Maka, kegalauan akibat jomblo kronis, digantikan dengan kegalauan akibat jab*ay (unappropriate word, tapi ngga ada kata lain yang bisa menggantikan kata ini dalam konteks kalimat tersebut) kronis. Jadi, titik balik dalam kehidupan gw adalah menggeser status dari single jadi single but not available, menikah statusnya tapi pada kenyataannya tetap sendiri, kemana mana sendiri, menjalani hidup sendiri. Ketemu cuma sebulan sekali, sebulan dibalas 2 hari.

Yakin deh, sekarang ini banyak banget yang bernasib sama dengan gw. Long distance marriage (LDM) udah bukan hal yang asing, karena banyak yang menikah tapi hidup terpisah karena pekerjaan atau pendidikan. Gw masih beruntung masih 1 negara, cuma dipisah selat sunda. Kasian yang beda negara, beda benua.

Tapi, bagaimanapun keadaannya, life must go on. Berani mengambil keputusan artinya berani menanggung risiko. Walaupun masih galau, paling ngga galau gw naik level, jadi galau ala tante-tante.

So... kalau lo berharap postingan blog gw akan berubah, lo salah. Episode postingan galau gw belum berakhir, galau gw cuma naik level. Siap-siap terima muntahan kegalauan ala wanita (bukan ibu, gw belom jadi ibu) setengah rumah tangga (setengah nikah-punya surat nikah, sudah muhrim, tapi hidup ala jomblo).

Welcome to my new life :)

Friday, 14 June 2013

Menghitung Bulan (Part III) : Pake baju apa yaaa???

Sebagai Bali sejati (lebay) pastinya acara gw menggunakan pakian adat Bali, cuma... karena acaranya buanyak, otomatis harus menyiapkan banyak kostum.
Keuntungan punya ibu perias pengantin adalah pakaian adat bali gratisan, hahahaha. Kalau sewa perias pengantin Bali di Lampung ini sekitarn 2,5 - 5 jutaan. Lumayan lah hemat segitu.
Tapi gw tetep harus bermodal untuk urusan kostum karena acara yang pakai pakain Payas Agung cuma di resepsi, di acara Mepamit dan Pawiwahan rencananya sih pakai modifikasi dengan Kebaya.
Kebaya untuk acara di Lampung gw siapin 1, itupun udah beli bahan dari bulan Mei dan sedang di proses di tukang jahit. Kenapa gw sudah jahit kebaya dari 6 bulan sebelumnya? Karena :
  1. Proses menjahit kebaya pengantin itu makan waktu sekitar 1 bulan
  2. Gw mau payet kebayanya sendiri, hemat dan kalau terlibat di pembuatannya pasti lebih berkesan ketika dipakai
Nekat memang pasang payet kebaya sendiri, cuma gw sudah melatih kemampuan payet memayet gw (ya elah bahasa gw :p) sebelumnya di pembuatan ekor pengantin pesenannya client ibu (apa sih istilahnya kain panjang menjuntai - juntai yang dipake pengantin itu??) dan terbukti gw tahan ngerjainnya walaupun ngejelimet dan ngebosenin. So... yeah, gw mau payet kebaya gw sendiri.

Model kebaya gw gambar sendiri, setelah cari inspirasi dari internet, intip - intip galeri kebaya designer - designer macam Marga Alam, Inar, Vera, Maha Kemala trus intip facebook rumah - rumah jahit, dan beli majalah - majalah kebaya (damn, they are so expensive ya). Gw suka banget dengan model - model kebayanya Verakebaya (cari di instagram atau kalo nggak bisa di hp pake webstagram), kebayanya sederhana, nggak bling - bling atau kebanyakan detail macem - macem, polos tapi anggun gitu. Seandainya gw punya cukup tabungan untuk bikin kebaya disana, hiks (T__T). Ya tapi gpp lah, berhubung nggak kebeli, gw meniru aja model kebaya pinguinnya verakebaya trus dikasi bordir di bagian dada meniru bordir di kebayanya marga alam. Karena kebayanya belom jadi, gw cuma bisa berdoa mudah - mudahan tukang jahitnya bisa membuat seperti yang gw pengen.

Sesuai tema low budget gw, gw pilih bahan yang tidak mahal tapi bisa dibentuk dengan mudah dan motifnya cantik. Setelah konsul model yang gw pengenin, kasi gambar ke tukang jahit, tukang jahitnya kasi saran untuk beli bahan brokat korea.  Setelah muterin pasar Tengah, gw nemu brokat korea warna soft pink di toko Ovitex di Bandar Lampung dengan harga setelah tawar menawar Rp.250.000,- per meternya, kalau di Jakarta lebih murah kali yaa?? Gw beli 3 meter karena gw bikin kebaya panjang, trus dikasi bonus sama cici tokonya 0,5 meter dengan tambahan uang 75 ribu karena ngabisin sisa brokatnya. Setelah tau wujudnya brokat korea, setuju dengan penjahit gw, bahannya memang cocok untuk dipakai bahan kebaya pengantin karena selain bahannya adem dan lembut jadi nempel di badan, motif bunganya bagus dan mudah dibentuk.

Thursday, 13 June 2013

Menghitung bulan (Part II) : persiapkan dari jauh - jauh hari

Dari si pacar menyebutkan rencana menikah bulan 10 sekitar bulan Desember tahun lalu, gw sudah mulai menyiapkan beberapa hal kecil yang seringkali diabaikan orang, satu hal yang paling penting adalah Pre Marital Check Up atau cek kesehatan pra nikah #dasarbidanjadisekalianpromosikesehatannihya

Pre Marital check up adalah salah satu bentuk upaya untuk mengenali calon suami/istri, bukan cuma kenal kepribadiannya, keluarganya, kebiasaannya, tapi juga mengenal masalah kesehatannya. Jangan cuma fokus ke persiapan uang untuk acara akad, resepsi, beli cincin, dekorasi, kostum, make - up, dll. Itu urusan di satu hari saja, urusan kesehatan itu akan mempengaruhi masa depan berdua.


First of all, ketika kalian memutuskan untuk menikah adalah, jujur kepada pasangan tentang masalah medis atau gangguan kesehatan apapun yang kalian miliki. Apapun bentuknya, alergi, penyakit kronis, dan terutama penyakit menular (lebih spesifik lagi penyakit menular seksual). Jangan takut untuk terbuka, karena kalau memang mau jadi suami/istri toh harus mau menerima apa adanya kan, bukan ada apanya.

Kenapa jujur tentang masalah medis itu penting? Karena :
  1. Persiapan mental
    Calon suami/istri bisa mempelajari masalah kesehatan yang dihadapi dan ketika masalah tersebut muncul maka akan lebih siap untuk menghadapinya dan tau harus berbuat apa ketika masalah tersebut muncul
  2. Persiapan finansial
    Ketika ada masalah medis yang akan mengganggu proses kehamilan atau persalinan, maka biaya tambahan untuk mengatasi komplikasi tersebut selama kehamilan atau persalinan sudah bisa dipertimbangkan dan disiapkan. Contoh : wanita yang memiliki penyakit diabetes akan berisiko mengalami giant baby (bayi >5 kg) dan akhirnya harus menjalani persalinan secara sectio caesaria (SC). Karena biaya perawatan kehamilan dan biaya SC mahal, maka lebih baik save money untuk tabungan hamil dan melahirkan dari pada dibuang - buang untuk acara resepsi yang mewah. Atau bahkan bisa siapkan dengan mulai mengikuti asuransi kesehatan atau tabungan berjangka
  3. Persiapan kesehatan
    Untuk kasus penyakit menular, seperti hepatititis, TBC, TORCH, dll, calon suami/istri bisa dilindungi dengan pemberian imunisasi atau obat - obatan pencegahan. Ada baiknya untuk berkonsultasi, datang bersama ke dokter yang biasa merawat untuk mendapatkan nasehat dan masukan mengenai tindakan pencegahan penularan. 
Nah, kalau sejauh inikalian merasa tidak punya masalah apa - apa, bukan berarti urusan kesehatan pra-pernikahan selesai ya...
Inti dari pre marital check up bukan cuma mengetahui masalah kesehatan yang dimiliki pasangan, deteksi dini, dan pencegahan penularan jika ada penyakit menular, tapi ada juga tujuan persiapan kehamilan. Premarital check up wajib dilakukan, paling tidak 6 bulan sebelumnya, why? karena jika ada masalah atau penyakit menular tertentu, pengobatan dan imunisasi bisa diselesaikan sebelum menikah.
Sekarang sudah banyak kok rumah sakit dan laboratorium klinik yang sudah memiliki program atau paket pre marital check up. Atau bisa juga datangi dokter keluarga dan minta surat pengantar ke laboratorium untuk check beberapa penanda penyakit tertentu.

Jangan malas melakukan pre marital check up ya, sedia payung sebelum hujan, lebih baik baik mencegah daripada mengobati, semakin awal diketahui semakin baik peluang untuk sembuh :)

14 Juni 2013 - 4 bulan lagi

Empat bulan menuju 14 Oktober
OMG, time move fastly, walaupun sudah direncanakan 6 bulan yang lalu, tetep aja sampe sekarang persiapan belum matang sematang - matangnya :(
Hal yang membuat pusing 7 keliling adalah perubahan runtutan acara, dulunya rencana ke Bali belakangan, sekarang pindah kedepan.  Runtutan acara sampai sekarang masih GAJEBO, dan kalau ada yang bilang semakin dekat ke harinya semakin banyak cobaannya, itu benar.
Rasanya seperti mengulang semua dari 0, waktunya empat bulan lagi dan kami berubah rencana saudara - saudara!!!!!




Anyway, walaupun acaranya masih ngga jelas, persiapan yang lain tetep harus berjalan. Nggak perduli dengan urusan yang lain - lain, gw memutuskan untuk fokus ke persiapan di Lampung, terutama persiapan resepsi. Mau dibilang urusan duniawi kek, bukan yang utama kek, pada kenyataannya resepsi pernikahan adalah bentuk rasa syukur orang tua, dan bentuk dari ungkapan kebahagiaan orang tua dan penghargaan orang tua untuk anak, dan sebaliknya.

Walaupun urusan pernikahan memang kewajibannya orang tua, sebenarnya gw sendiri nggak enak hati kalau sampai memberatkan mereka. So, dari pada membuat acara yang mahal - mahal, gw memilih untuk bikin acara low budget tapi punya konsep yang out of the box, sederhana tapi beda dari yang biasanya. Konsekuensi dari bikin acara pernikahan low budget adalah menyiapkan semua - muanya sendiri, kalau pake WO atau EO itu bisa nambah 10-25 jutaan untuk bayar jasa mereka. Termasuk di urusan pakaian, dekorasi, dll, kalau dikerjakan sendiri (kalau bisa tapi yaaa...) biaya bakalan jauh - jauh - jauh lebih murah.
Karena posisinya nyokap perias pengantin dan penyedia dekorasi pelaminan bali, so... kami bisa menghemat budget make - up, kostum dan dekorasi.

Buat kalian yang pengen bikin acara low budget tapi tetep "wah", I'll share my experience here, atau kalau kalian pernah bikin acara dan mau share pengalaman ditunggu commentnya :) 



Saturday, 20 April 2013

Menghitung bulan (part 1) : Langkah tegap majuuuuu.... jalan!

Berapa lama sih waktu dari pendekatan ke pacaran, dari pacaran lalu memutuskan menikah yang ideal? Klau tanya mbah google pasti jawabannya macem - macem. Kalo gw, jawabannya seperti Einstein, relatif. Kenapa relatif? Karena tiap orang memiliki pola pengambilan keputusan yang berbeda dan latar belakang siatuasi dan kondisi yang berbeda. Ada yang 10 tahun pacaran, ujung - ujungnya nggak jadi, ada yang baru ketemu sebulan, langsung nikah. Kalau dicari pake statistik mungkin bisa di cari mean, median (halaaah.... efek kebanyakan kuliah epidemiologi), cuma kalau dicari apakah ada waktu yang ideal, jawabannya relatif.

Gw sendiri bisa dibilang mengambil keputusan dalam waktu singkat, bahkan kalau ditanya kenapa gw mau sama Mr. gw juga susah menjelaskan. Why? Karena apa yang dirasa kadang - kadang sulit untuk dijelaskan. Intinya, siapa yang bisa membuat paling nyaman, itu yang dipilih, iya kan?

Kalau nonton di TV, urusan lamar melamar itu pake acara - acara lebay macam apalah judulnya itu yg ngelamar di liput TV atau bahkan acara di Star World kaya Mobbed yang bikin surprise waktu lamaran, romantis - romantisan, dll. Kalau gw, karena si pacar bukan tipe manusia romantis - romantisan, doi langsung tanya "ada hari baik untuk menikah bulan sekian tahun sekian, pilih mana?" dan jawaban bodoh gw adalah "kok langsung ke tanggal, emang gw udah bilang mau nikah?" hahahahahaha. We are a weird couple. Aneh dua - duanya memang, makanya cocok, hehehe. Kami bahkan nggak tau kapan kami sebenarnya mulai pacaran, everything just flow like water, mengalir begitu saja, nggak perlu banyak basa - basi, hehehe.
Kalau ditanya kenapa mau sama pacar, jawaban gw cuma : karena merasa nyaman. Singkat, jelas, padat.
Umur sudah cukup, keyakinan sudah mantap, tinggal langkah tegap majuuu.... jalan!

So, setelah meminta pertimbangan dan masukan dari keluarga dan teman, berdiskusi panjang lebar, mengatasi perbedaan, menerima kekurangan, kami sepakat dengan bulan Oktober. Dalam adat Bali (dan mungkin juga di beberapa daerah, seperti Jawa), penentuan hari pernikahan itu nggak gampang, banyak pertimbangan, nggak boleh di hari kelahiran, nggak boleh sekian hari dari hara raya Galungan, ada perhitungannya yang gw juga nggak begitu paham. Sempet berdebat karena pemilihan hari dan tanggal yang menurut gw nggak pas, dan akhirnya setelah penjelasan 2 kali panjang + lebar (keling - keliling) dari pacar lebih ngerti tentang beginian gw menyerah dan ngikutin keputusan :
  • Pawiwahan (kalau di Muslim namanya ijab kabul) : Tanggal 14 Oktober . Lokasi di rumah kediaman keluarga pacar (kalau adat Bali, pernikahan dilangsungkan di keluarga laki - laki) di Lampung Timur.
  • Mepamit (meminta izin dan memberi kabar ke keluarga besar bahwa anak perempuannya sudah menjadi istri dan ikut ke keluarga suami) : Tanggal 18 Oktober. Lokasi di rumah keluarga besar di Tabanan, Bali.
  • Resepsi : Tanggal 27 Oktober. Lokasi di Bandar Lampung. 
Ribet? Ini udah di ringkas saudara - saudara. Gw pernah ngikutin runtutan pernikahan adat Bali yang sesungguhnya, sepupu gw waktu itu yg menikah, di Bali, aduh biyuuungg.... ribetnyaaaa. Bolak - balik, mondar - mandir. Gw yang cuma ngikutin aja puyeng, gimana yg punya acara tuh. Nah, karena kebetulan kedua pihak keluarga sudah sama - sama perantauan, jadi acara di buat ringkas dan memaksimalkan waktu. Biasanya kalau di Bali, nggak ada acara resepsi di pihak perempuan, karena sistem di Bali memang patrilinial, jadi lebih repot ngurus kawinan anak laki - laki daripada perempuan. Cuma kalau versi keluarga besar gw, dan hampir semua orang tua perantauan di Lampung, Jakarta, dan sekitarnya, anak perempuan dan laki - laki harus diperlakukan sama, jadi semuanya dibuatkan acara resepsi.

Tapi ternyata rencana awal berubah, setelah mempertimbangkan dan diskusi dengan keluarga di Bali, biar nggak bolak - balik dan nggak mepet dengan hari raya Galungan, acara resepsi di majukan ke tanggal 20 Oktober dan ke Bali 1 bulan setelah Galungan. Batal deh rencana honeymoon di Bali, hehehe, di Lampung aja cukup lah :D

Menghitung bulan

Yeaaayyy... akhirnya setelah sekian lama, niat dan minat untuk posting blog muncul lagi, hehehe
*bawa kemoceng dan lap butut - ngebersihin debu dan sarang laba - laba di blog*

Well, setelah sekian lama berlalu, hari - bulan - tahun sudah lewat dan gw tetep stuck di kota Bandar Lampung tercinta, Lampung Sai Sang Bumi Ruwa Jurai. Urusan kuliah *yang akhirnya kelar juga* dan urusan terjemahan *yang semakin menumpuk* bener - bener menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran dan menyebabkan ke-tidak aktifan gw di blogging memblogging. Padahal sebenernya kalau bahan  - bahan terjemahan itu gw ringkas buanyaaaakkk banget bahan bagus yg bisa di share, cuma waktunya euy... menerjemahkan saja sulit bagi waktunya, meringkasnya lebih sulit lagi bagi moodnya, hehehe (singkat kata : males).

OK, cukup intronya...
Back to the track, sesuai dengan judul, gw hari ini mulai menghitung bulan ke bulan Oktober. Ada apa di bulan Oktober? It's "astungkara" gonna be wedding month (yippiieee.... uhuk-uhuk). Kenapa wedding month? bukan wedding day? karena selama sebulan runtutan acaranya banyak, hehehe.

Penetapan tanggal sebenernya udah diambil dari awal tahun, cuma karena persyaratan dari ibu, nggak boleh menikah sebelum kami lulus kuliah, gw dan si Mr. (my bofriend) yang waktu itu baru mulai nyusun thesis dan belum tau kapan kelarnya (lebih tepatnya ngga jelas bakalan bisa kelar tahun ini apa nggak, hehehe), kami belum berani membicarakan lebih serius. Setelah ada tanda - tanda kemajuan thesis, baru deh di awal bulan Februari ada pembicaraan antar keluarga dan ditetapkanlah bulan Oktober sebagai bulan keramat :p

Karena waktunya masih lama, jadi masih santai - santai aja, nggak mikirin ini itu, dan akhirnya santainya kebablasan karena setelah dihitung - hitung waktunya tinggal 6 bulan lagi...!!!!!!

Sejauh ini gw baru cari - cari info tentang apa saja yang harus disiapkan, berapa kira - kira dana yang dibutuhkan (baik dari dana kantong gw sendiri dan suntikan dana dari ortu), baca - baca pengalaman blogger yang sharing persiapan pernikahannya dan liat - liat tema warna, konsep dekorasi dan pakaian adat Bali.

6 months to go, lumayan banyak waktu untuk menyiapkan diri, menyiapkan dana dan menyiapkan kebutuhan lain, doakan saya (>.<)




Sunday, 5 August 2012

Rencana Jangka Panjang

Wohoooo... What up blogger?? Udah lama banget ga ngeblog, dashboard blog gw sampe ada sarang laba-labanya kelamaan ngga di update, hehehe. Sedang 'sok' sibuk belakangan ini.

Anyway, kembali ke judul.

Seminggu yg lalu, gw nonton serial How I Meet Your Mother Season 7, ditanyangin marathon di Star World. Di episode entah berapa, ada satu cerita dimana Ted ngajak Barney dan Marshal nonton Trilogi Star Wars, mereka rutin nonton bareng film ini setiap 3 tahun sekali. Nah, setiap 3 tahun, setelah film selesai ditonton, mereka berandai-andai apa yang akan terjadi, dimana dan seperti apa mereka 3 tahun kedepan, setelah itu mereka mengingat lagi apa bayangan mereka 3 tahun yg lalu dan apa yg kenyataannya terjadi. Tapi tahun ini, mereka ngga mau membuat rencana 3 tahun mendatang karena rencana mereka dari beberapa tahun yg lalu tidak ada yg jd kenyataan.

Nah, selesai nonton ini, gw langsung inget kalo dulu tiap tahun, di malam tahun baru (yg pasti gw habiskan duduk manis di rumah depan lap top) gw selalu bikin resolusi tahun baru yg gw ketik di Ms.Word dan gw save dengan password. Tapi kebiasaan ini berhenti di tahun 2009, karena tiap tahunnya segala upaya untuk mencapai resolusi sudah gw lupakan di minggu kedua. Contoh, resolusi : makan makanan sehat, 1 minggu pertama : ga makan daging, makan rutin, buah, sayur, 2 minggu : makan di warung steak enak nih..., 3 minggu : damn, bakso emang enak banget, dan seterusnya sampe gw lupa punya resolusi dan baru inget apa yg gw pernah ketik di malam tahun baru ke tahun berikutnya waktu gw mau kumpulan "resolushit" lainnya.

Seringnya, kita buat rencana ini - itu, cita - cita setinggi gunung Everest (ga usah setinggi langit, setinggi Everest aja ga kesampean melulu), tapi rencana cuma tinggal rencana karena seringkali kita lupa untuk memaksimalkan satu hal penting : UPAYA.

Pernah denger istilah NATO? Bukan-bukan, bukan NATO di pelajaran sejarah (apa ya kepanjangannya, lupa :P), NATO itu singkatan dari No Action Talk Only. Banyak bicara sedikit bertindak. Kebanyakan orang seperti ini, dan termasuk saya. Kesel sediri dgn keNATO-an gw, then gw berhenti bikin resolusi.

Sampe di tahun baru 2011, setelah lulus kuliah, akhirnya ortu menanyakan : apa rencananya setelah ini dan 5 tahun kedepan??
Gw bengong, nyengir dan bilang : ngga tauuuu!!

Setelah ngomel-ngomel karena hidup tanpa planning, akhirnya gw terpaksa mikir juga, apa ya target gw 5 tahun kedepan???

Berhenti bikin resolusi, gw berpindah ke lain hati dengan bikin Rencana Jangka Panjang (RJP). RJP gw isinya simpel, cuma berupa list target apa yg harus gw capai dalam 5 tahun kedepan.
Supaya ngga NATO lagi, gw jabarkan smua rencana ini ke Ortu, jd ketika gw mulai entah sengaja atau enggak, tiba - tiba lupa ingatan dengan target - target ini, ada yg mengingatkan. Dan kelebihan dari nge-share target - target ini ke orang tua adalah mereka bantu untuk kasi masukan upaya apa yg harus dilakukan untuk mencapai target.

Pernah baca The Secret (Rahasia) ini buku motivasi best seller, atau buat yg males baca buku, ada juga versi DVDnya. Penulisnya, lupa gw namanya siapa, bilang ada 3 rahasia untuk mencapai atau mendapatkan apapun yg kita inginkan, agak ribet memang bahasanya, tapi kalau disimpulkan untuk mendapatkan apapun yg diinginkan cuma butuh pelaksanaan dari 3 kata : ask for it (minta), believe it (percaya), receive it (terima). Ketika ada yg kita inginkan tentukan dengan jelas apa, minta, minta ke diri sendiri, minta ke Tuhan, setelah minta kita ngga boleh cuma cuap-cuap minta terus, kita harus percaya kalo kita pasti akan mendapatkan apa yg kita inginkan, jadi kita akan mulai menyiapkan kedatangan apa yg kita minta, walaupun belum tentu apa yg kita minta itu kita dapatkan sesuai dengan yg kita inginkan.
Kalau habis baca buku ini, semangatnya emang luar biasa, tapi lagi - lagi penerapan isi bukunya cuma anget-anget feces ayam, hehe. Buku ini gw dapet tahun 2008, tapi sampe sekarang gw ngga pernah menerapkan isi bukunya, dasaarrr bebel (>.<)

Ok, gw memang nggak pernah bener - bener menerapkan apa isi The Secret, gw punya pendekatan sendiri untuk RJP gw, which is : hemat kata tapi kaya upaya.

Berhenti cuma bikin rencana, langsung ke upaya aja, gimana hasilnya : pasrah saja lah, yg penting sudah usaha. Lebih baik menyesal karena gagal setelah berulang kali mencoba dari pada menyesal karena sama sekali tidak berusaha.

Sama dengan orang - orang pada umumnya, target gw setelah lulus kuliah adalah kerja, cukup modal, menikah, punya anak. Upaya untuk itu tiap orang punya caranya masing - masing. Target kerja gw memang belum tercapai maksimal, but at least I tried my best. Target menikah, oh no...ini yg paling berat, nggak segampang yg dilihat di film-film kartun Disney, ketemu - pacaran - nikah. Padahal untuk melewati masing - masing tahapnya prosesnya rumit, banyak rintangannya. Dan terutama, saat kita sudah ketemu dengan orang yg hampir tepat, untuk memutuskan kita akan melanjutkan ke tahap berikutnya (wedding) itu banyak yg harus disiapkan. Siap fisik (pastikan sehat, bebas anemia, bebas infeksi, tubuh siap untuk menghadapi kehamilan dan persalinan, ehemm...konsep bidan, hahahaha), siap mental (yakin ni orang bakalan ada sampe gw tua? dan meninggal? yakin ni orang bisa monogami sampe mati? siap buat terima apapun kurang - kurangnya orang itu nanti? siap memghadapi apapun masalahnya nanti?), siap finansial (nikah butuh duit banyak euy, udah punya duit buat biaya kehamilan? melahirkan? perawatan bayi?). Banyak yg bilang : jalanin aja, nanti juga ketemu jalannya. Kalo gw nggak setuju dengan konsep ini, harus ada upaya maksimal untuk mencapai tahap itu. Fisik gw belum siap (indeks massa tubuh gw kuraaaaanngg!!! Siapa yg mau jd donor lemak???), mental gw belum siap, dan secara finansial apalagi.

Tapi, walaupun target kesana masih 2 - 3 tahun kedepan, sedikitnya gw sudah mulai siap - siap. Menyiapkan calon yg hampir tepat (bukan orang yg tepat, karena menurut gw nggak ada orang yg tepat, mustahil, yg ada cuma orang yg hampir tepat, karena orang yg kita anggap tepat pasti satu atau dua kali akan melakukan kesalahan yg sama dgn orang tidak tepat yg pernah meninggalkan atau kita tinggalkan sebelumnya), mungkin bukan yg sudah kaya, bukan yg gantengnya kaya Adam Levine, bukan yg punya mobil bagus, yg penting bisa menghadapi gw, gw yg asli, dengan semua sikap, sifat, kekurangan dan kelebihannya, yang bisa memenuhi paling tidak kebutuhan makan, selebihnya bisa di cari sama - sama. Siap - siap dengan belajar hidup sehat. Siap - siap untuk menabung, bukan untuk biaya nikah-nikahan, itu urusan nomor sekian, kalau ngga punya banyak ya jangan bikin acara besar - besar, yang penting untuk disiapkan adalah biaya setelah menikah. Dan berhubung gw pernah jadi bidan dan dicekokin dengan berbagai materi kesehatan reproduksi, ibu dan anak, yg lebih jadi fokus gw adalah persiapan finansial untuk hamil, melahirkan dan merawat anak.
Sering gw liat suami pasien yg bingung waktu istrinya melahirkan, kok tiba - tiba ada komplikasi, padahal yg disiapkan biayanya cuma cukup untuk melahirkan normal, bahkan ada juga yg ngga siap uang sama skali. Bukannya mengharapkan yg buruk, cuma buat gw inilah yg seharusnya disiapkan dari awal sebelum memutuskan menikah. Siapkah untuk hamil dan punya anak? Kalau belum siap secara fisik dan finansial tapi sudah harus menikah, lebih baik tunda kehamilannya.

So, gw mulai menabung untuk biaya itu dari sekarang, biar dibilang lebay, tapi apa salahnya meringankan beban suami nanti (dengan siapapun jadinya nanti), perempuan harus mandiri, perempuan akan lebih bisa menentukan keputusan atas dirinya, memilih yang terbaik untuk dirinya kalau dia bisa ikut serta membantu secara finansial, walaupun sedikit. Kebanyakan baru mulai menabung di trimester I, kalau menurut gw ini kurang tepat, karena walaupun kehamilan dan persalinan itu adalah suatu proses yang fisiologis, setiap wanita berisiko untuk mengalami komplikasi dalam bentuk apapun, jangan sampai urusan uang jadi pengahalang untuk memberikan penanganan dan perawatan kehamilan dan persalinan. Buat yg tertarik bisa coba pake tabungan jangka panjang yg tersedia di bank - bank, ambil yg tahunan, tiap bulannya di potong otomatis dari rekening, simple, sedikit - sedikit tapi akan sangat bermanfaat nantinya.

Yup, begitulah cuap - cuap saya, btw gw bikin postingan ini lewat aplikasi blogger di iphone, ini jempol sudah hampir keriting ketik - ketik. 

Kesimpulannya, hemat bicara, kaya upaya. This is my future plan, what's yours???